Senin, 16 November 2020

UNGKER JATI : KULINER EKSTREM KHAS BLORA SARAT GIZI

Kota Blora merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang terkenal dengan luasnya kawasan hutan jati. Dimusim penghujan, salah satu berkah tersendiri bagi warga Blora dari adanya pohon jati yaitu kepompong daun jati atau warga Blora sering menyebutnya dengan sebutan ungker. Ungker merupakan kepompong dari hasil metamorfosis kupu-kupu. Ungker hanya muncul di musim-musim tertentu yaitu pada awal musim penghujan, udara yang lembab membuat banyak muncul kepompong ulat di daun jati.

Sebagian warga Blora menjadikan ungker sebagai salah satu santapan atau lauk pelengkap hidangan yang lezat. Ungker merupakan salah satu makanan khas Blora yang tinggi peminat dan menjadi menu yang menggiurkan bagi masyarakat Blora maupun luar daerah, ungker juga disebut makanan yang ekstrem khas Blora. Kandungan protein yang tinggi membuat ungker memiliki rasa yang gurih dan digemari banyak orang.

Salah satu penjual olahan ungker jati diwarung makan depan RS dr. R Soetijono Blora yang terletak di Jalan. Dr. Sutomo No.42, Blora, Tempelan, Kec. Blora, Kabupaten Blora, Ibu Yuliana Dewi mengatakan musim penghujan seperti ungker ini banyak diminati oleh warga. Ibu Yuliana memanfaatkan kesempatan ini dengan menjual olahan ungker yang sudah ia masak dengan bumbu yang khas sehingga rasanya terasa lezat saat dinikmati.

Ungker biasanya diolah dengan dimasak oseng-oseng. Ungker dioseng dengan dicampur beberapa bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabai, tomat, dan bumbu yang lain. Biasanya dalam penyajiannya masakan ungker dikombinasikan dengan campuran daun kedondong muda, dijamin rasanya akan menggoyangkan lidah.

Ungker yang sudah dimasak dibungkus menggunakan daun jati atau daun pisang. Ibu Yuliana biasanya menjual olahan ungker 10 ribu perbungkus. Biasanya ungker mentah dijual dengan harganya mencapai 85.000 sampai 150.000 perkilogram. Olahan ungker di warung Ibu Yuliana bisa dibeli pada pukul 15.00 hingga habis. Olahan ungker biasa dinikmati dengan nasi sebagai lauk.


Bagi pecinta olahan makanan yang gurih atau pecinta makanan yang tergolong ekstrem, olahan sajian ungker bisa dijadikan salah satu pilihan kuliner yang tepat. Untuk mendapatkan makanan khas Blora ini disarankan pada musim-musim seperti saat ini, karena ungker bisa didapat pada musim penghujan. Belum lengkap rasanya jika ke Blora belum menikmati salah satu kuliner ungker jati khas Blora.

 

 

Jumat, 23 Oktober 2020

Perspektif Mahasiswa Terhadap Juru Parkir

 

 

Seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta bernama Novita Dwi Cahyani berumur 20th sering menjumpai juru parkir di wiilayah kampus UMS. Tak heran banyaknya toko dan rumah makan di sekitar UMS sehingga juru parkir sangat dibutuhkan oleh pengguna jasanya seperti mahasiswa.

Sekitar 3 tahun Novita berkuliah di UMS, ketika nongkrong maupun membeli sesuatu di daerah kampus UMS ia merasa jasa yang sudah diberikan oleh juru parkir sangat baik.  Jika motornya dititipkan akan aman kemudian motor terparkir rapih tidak akan mengalami kerusakan, serta akses untuk masuk ke toko atau rumah makan tersebut tidak tertutup oleh motor-motor sehingga sangat memudahkan.

Juru parkir di daerah UMS sudah memberikan pelayanan jasa yang baik kepada pengguna, contohnya saja tukang parkir juga mengatur akses masuk jalan ke toko atau rumah makan. Ketika toko atau rumah makan tidak ada juru parkir, motor-motor akan terparkir sembarangan dan terkadang menutupi jalan masuk toko. Hal itu akan menyebabkan kerusakan pada motor, misalnya tergores oleh motor lain.” Ujar Novita, Sabtu 17/10/2020

Menurutnya biaya jasa untuk parkir juga sangat terjangkau bagi mahasiswa hanya Rp. 2.000. Namun biaya parkir Rp. 2.000 itu hanya untuk pengguna motor, berbeda dengan pengguna mobil  biasanya Rp. 3.000 atau bahkan sampai Rp. 4.000. Namun Novita juga terkadang sangat kesal karena jika ia sehari menghampiri dua rumah makan atau membeli sesuatu ke toko maka untuk biaya parkir sehari Novita menghabiskan Rp. 6.000, bagi mahasiswa uang dengan nominal tersebut bisa digunakan untuk makan.

“Biasanya saya parkir motor itu hanya bayar Rp. 2.000 saja, dengan nominal segitu sangat murah dan terjangkau oleh mahasiswa. Ya sesuai bahkan melebihi dengan jasa yang sudah diberikan oleh juru parkir. Namun kadang saya juga kesal dan boros ketika makan siang dan malam atau ke toko dalam sehari saya bisa menghabiskan Rp. 6.000 hanya untuk biaya parkir.  Dengan uang segitu jika saya pergi ke angkringan bisa untuk membeli makan. Kalau mobil biasanya Rp. 3.000 atau duakali lipat dari biaya parkir motor.” Ujarnya, Sabtu 17/10/2020

Novita mengatakan bahwa jasa parkir di sekitar kampus kendaraan menjadi lebih aman jika ditinggalkan karena dapat pengawasan langsung oleh juru parkir, dengan adanya jasa parkir juga dapat mengantisipasi kejadian kehilangan kendaraan bermotor dan helm. Karena disekitar kampus banyak kasus kehilangan motor dan helm yang tidak diawasi secara langsung oleh pemilik.

“Saya merasa aman jika kendaraan dititipkan juru parkir karena dapat pengawasan langsung dari juru parkir, dengan adanya jasa parkir disekitar ums mengantisipasi kejadian kehilangan, karena kan disekitar kampus sering ada kasus kehilangan motor.” Ujar Novita, Sabtu 17/10/2020

Mengangapi adanya jasa parkir yang hampir disetiap tempat ada ia merasa semakin ada pengawasan untuk kendaraan yang dititipkan, tetapi sebaiknya juru parkir berada di tempat-tempat yang seharusnya memang dibutuhkan oleh masyarakat seperti tempat yang tidak bisa terjangkau oleh pengawasan pemilik. Jadi jika ada tempat yang bisa terjangkau oleh pengawasan pemilik sebaiknya tidak diberi jasa parkir.

“Jasa parkir disetiap tempat didaerah kampus ya kendaraan kita dapat pengawasan langsung oleh juru parkir dan seharusnya jasa parkir itu ditempatkan pada tempat yang dibutuhkan, yang tidak bisa dijangkau oleh pengawasan kita sendiri seperti toko kelontongan seharusnya tidak ada jasa parkirnya.” Ujarnya, Sabtu 17/10/2020

 

50 Ribu Sehari Untuk Menghidupi Anak dan Istrinya

                             

                             


Juru Parkir , pekerjaan yang dipandang rendah oleh sebagian orang akan tetapi banyak orang tidak mengetahui bahwa sebagai juru parkir merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Itu pekerjaan yang saat ini digeluti oleh Bapak Suyatman. Ayah dari dua orang anak ini sudah bekerja selama 10  tahun, ujar Suyatman (Kamis,15/10/2020).

Suyatman bekerja selama 3 jam perharinya sebagai juru parkir di Jl. Garuda Mas, tepatnya didepan ATM depan kampus 2 UMS. Pekerjaan kecil yang sehari-hari dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab yang besar tidak membuat Suyatman berkecil hati, dan ada sesuatu yang berbeda daripada juru parkir lainnnya saat memberikan pelayanan, setiap kali ada yang hendak parkir atau mengambil sepeda motor setelah selesai dari ATM, selalu disambutnya dengan senyum ramah. Setelah itu, Suyatman mengarahkan sepeda motor sesuai dengan arah yang hendak dituju.

Lelaki berumur 55 tahun ini sehari-harinya berpenghasilan 50 ribu untuk menghidupi anak dan istrinya. Menurut tuturan beliau, “Setiap harinya saya mendapatkan hasil dari juru parkir sebesar 50 ribu mas, dengan sistem kerja sift dengan 5 orang, saya sendiri setiap harinya bekerja selama 3 jam.” Ia selalu menganggap bahwa ‘’Apabila pekerjaan selalu dijalani dengan ikhlas, maka akan menjadi berkah’’, tutur beliau saat diwawancarai pada (Kamis,15/10/2020).

Pekerjaan sebagai juru parkir ini sudah Suyatman tekuni kurang lebih sejak 2010. Ia tidak pernah meminta uang lebih kepada pemilik sepeda motor atas apa yang dilakukannya ia melakukannya dengan ikhlas dan senang hati dengan niat untuk berbuat baik bagi sesame. Untuk tarifnya dulu Rp. 1.500 kemudian untuk sekarang menjadi Rp. 2.000. Meski ada tarifnya, Suyatman tidak pernah sekalipun memaksa pemilik kendaraan untuk membayar parkir. Sebab semuanya ia lakukan dengan keikhlasan. Namun sering juga pengunjung yang parkir memberikan uang lebih kepada Suyatman. Mereka memberikan uang lebih karena melihat ketekunan, kerja keras dan pelayanan Suyatman.

Dengan hadirnya seorang anak dalam keluarga sederhananya, Suyatman semakin merasa bertambahnya beban yang harus dipikulnya. Anak Suyatman yang masih kecil perlu dipenuhi segala kebutuhannya, dan yang besar juga butuh biaya untuk pendidikannya. Dengan kondisi ekonomi seperti ini, Suyatman berusaha dengan baik mengatur pengeluaran yang diperlukan keluarganya.

Selain karena panggilan, alasan lain mengapa Suyatman memilih bekerja sebagai tukang parkir adalah, karena tidak ada pekerjaan lain yang sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikannya. Sekali lagi Suyatman tetap bersyukur, di kota besar seperti Solo masih banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, bahkan bergantung hidup dengan orang lain. Ayah dari dua orang anak ini tetap merekahkan senyum sembari menjalani pekerjaanya.

Semua pekerjaan pasti ada hambatannya, hal itu juga sering dialami Suyatman. Menjalani profesi sebagai juru parkir tidak membuat Suyatman terbebas dari berbagai hambatan dan masalah. Namun dengan senyum khasnya, Suyatman terus bersabar menghadapi segala hambatan yang ia yakini sebagai ujian dalam pekerjaan yang sedang dijalaninya itu. Jika ada waktu luang, Suyatman menggunakannya dengan sebaik-baiknya untuk membaca Al-Qur’an.

Ia tidak ingin ketinggalan dalam berburu amal untuk bekal di Akhirat kelak. Walau Ia miskin harta di Dunia, Ia tidak ingin miskin di Akhirat kelak. Ia selalu ingin menjalani hari demi hari menjadi semakin lebih baik. Di usianya yang ke 55 ini membuat Suyatman semakin sadar bahwa umur semakin habis dimakan waktu. Kapan lagi banyak-banyak melakukan ibadah, kalu bukan sekarang ? karena mati seseorang hanya Allah yang menentukan.

Setiap kali ada orang yang ke ATM mengambil uang, entah memberi uang parkir atau tidak, Suyatman selalu bersikap sopan, ceria dan penuh semangat, menurutnya “Sebagai orang Jawa menjaga sopan santun dan keramahan itu sudah menjadi keharusan, ujarnya (Kamis,15/10/2020). Ditambah pelayanan Wandi yang sangat memuaskan inilah yang membuat Wandi makin disegani oleh banyak orang.

 

 

PENGELOLAAN PARKIR DEPAN 1 KAMPUS 1 UMS

 


Adanya warung makan, minimarket, dan tempat foto copy di depan Kampus 1 UMS menjadi faktor yang menyebabkan orang parkir di sepanjang jalan tersebut. Pengguna parkir sering merasa dirugikan. Mereka merasa bahwa kendaraan yang diparkir tidak dijaga oleh petugas atau juru parkir. Saat mereka datang tidak ada petugas parkir, sedangkan saat mereka akan meninggalkan tempat tersebut secara tiba-tiba muncullah petugas parkir. JUKIR (juru parkir) seolah-olah mengarahkan kendaraan mereka lalu meminta uang parkir. 

Tidak semua jukir seperti itu. Masih banyak jukir yang tetap mentaati peraturan dari PEMKAB. Mereka memarkir sesuai tempat yang sudah ditentukan dan menarik tarif parkir yang sesuai. Wahyono berumur 50 tahun, salah satu juru parkir Kabupaten Sukoharjo yang menjalankan tugasnya di depan Kampus 1 UMS mengatakan, sistem pengelolaan parkir ini dipegang oleh Dinas Perhubungan (DISHUB) Sukoharjo. Selain pembagian wilayah, tarif parkir hingga uang setoranpun sudah ditentukan semua (Rabu, 14/10/2020).

Tarif parkir untuk kendaraan roda dua sebesar Rp. 2.000 dan untuk kendaraan roda empat sebesar Rp. 3.000. Tarif yang diterapkan Wahyono sudah sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2017 tentang Perubahan Perda no 13 tahun 2011 tentang Retribusi Daerah. Sebagai tanda pengenal, jukir yang sesuai di bawah pengelolaan Dishub biasanya diberi seragam. Hal itu, dilakukan untuk membedakan jukir resmi dengan jukir liar. 

Wahyono, pendapatan parkir satu hari terkadang hanya mendapat Rp. 40.000 saja saat pandemi covid seperti ini, karena saat pandemi seperti ini hanya sebagian orang yang mengunjungi tempat fotocopy, rumah makan didepan kampus. Dibandingkan dengan bulan-bulan lalu bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar. untuk ketentuan tarif parkir Rp. 2.000-Rp. 3.000 saja terkadang masih saja yang memberi kurang dari ketentuan tarif tetapi juga ada yang memberi uang lebih kepada tukang parkir (ujarnnya, Rabu 14/10/2020).

Untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak disaat pandemi seperti ini Wahyono  menjaga beberapa tempat berlarian kesana kemari mengawasi motor-motor yang diparkiri Wahyono tidak mengenal panas,hujan usia yang sudah menginjak 50 tahun Wahyono tetap semangat bekerja demi menghidupi keluarganya yang menunggunya pulang membawa rejeki yang untuk anak istri dirumah. 25 tahun menjalani sebagai juru parkir, Wahyono tetap sabar dan telaten dalam menjalankan tugasnya sebagai juru parkir yang jujur dan sabar. Terkadang masih ada saja yang mengakali pergi tidak membayar parkir, namun Wahyono berlari menghampiri sepeda motor yang ingin meninggalkan tempat parkir tersebut. 

Pendapatan setiap harinya akan diserahkan ke DISHUB kemudian Wahyono diberi bagian sendiri oleh pihak pengelola parkir. Untuk wilayah/lokasi parkir sudah diatur oleh pihak pengelola jadi dari seragam dan lokasi parkir tidak bisa menentukan sendiri sudah ada ketentuan dari dishub sendiri.  Tapi terkadang juru parkir dapat memilih sendiri wilayah parkir, kemudian lapor terlebih dahulu kepada DISHUB (ujar Wahyono, Rabu 14/10/2020).

 

 

 

Jumat, 18 September 2020

CITARASA SATE BLORA YANG MENGGOYANGKAN LIDAH


Kota Blora merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah yang salah satunya terkenal dengan kelezatan kuliner sate ayam kampungnya. Kuliner sate ayam kampung diyakini sebagai salah satu kuliner yang turun termurun diwariskan secara generasi ke generasi dan beberapa menuskrip di Kota Blora.

Salah satu sate ayam kampung yang terkenal yaitu sate ayam kampung Pak Kadirun, terletak di Jl. Gunung Sumbing No.1, Tempelan, Kec. Blora, Kabupaten Blora, Jawa Tengah mulai buka pada pukul 08.00 – 17.00 WIB. Sate ayam Pak Kadirun memiliki rasa yang berbeda dengan sate lainnya yang diciptakan dari pengolahan bumbu siram atau sambalnya. Dengan pengolahan yang dimasak kurang lebih 2 jam hingga semua bumbu merata, bumbu siramnya menggunakan bahan-bahan seperti kacang tanah yang digoreng dengan cara disangrai dengan pasir, agar kacang tanah terasa gurih saat dimasak dan menghasilkan bau yang wangi. Setelah kacang disangrai kemudian kacang digiling bersamaan dengan bumbu lainnya seperti bawang putih, bawang merah, kencur, kemiri, dan cabai merah yang sudah direbus. Selanjutnya setelah digiling kacang tersebut dimasak dan dicampur dengan perasan santan hingga merata.

Sate ayam Pak Kadirun selalu menggunakan ayam kampung sebagai bahan baku satenya. Sebelum ayam ditusuk dan dibakar, daging ayam tersebut sudah dibumbui dengan bumbu yang sudah dihaluskan. Bumbu halus itu tujuannya untuk menciptakan rasa dan agar daging ayam tersebut tidak keras saat dimakan. Setelah dibumbui selanjutnya daging ayam ditusuk dengan sebilah lidi dari bambu lalu dibakar menggunakan arang hingga matang.

Yang menjadi pembeda sate khas Blora dengan daerah lainnya yaitu dalam penyajiannya. Penyajian sate ayam di Pak Kadirun menggunakan alas pincuk daun jati sebagai alas makannya. Saat menyajikan nasi diatas alas pincuk nasi akan disiram dengan kuah opor diatasnya dan diberi taburan bawang goreng untuk penyedap. Dalam menyajikan sate ayamnya juga unik penjual akan menyajikan sate dalam piring tanpa kita meminta berapa porsi yang harus dibakar. Penjual akan membakar sate dan menyajikannya dipiring secara terus menerus selama kita masih makan, dan nanti yang dihitung jumlah tusuk sate yang sudah kita makan.

Jika anda berkunjung ke Kota Blora anda dapat menyempatkan waktu untuk mampir ke warung sate Pak Kadirun untuk mencicipi sate ayam kampung sepesialnya. Harganya pun tidak kalah dengan apa yang kita dapatkan ketika mencicipi sate ayam kampungnya yang maknyusss!

Selasa, 14 Juli 2020

Mahasiswa UMS, di Sela-sela Kuliah Daring Sempatkan Membantu Orang Tua


Salah satu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalani perkuliahan daring serta melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak dengan membantu orang tua di kampung halaman. Hisbi Naufal yang merupakan mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, mengatakan bahwa selama kuliah dilaksanakan secara daring ia banyak membantu pekerjaan orang tua kampung halaman, ungkap Hisbi pada Rabu (8/7/2020).

“kuliah daring itu enak kita bisa dirumah, selama perkuliahan daring ini saya sering membantu orang tua dari membantu di kebun hingga membantu ayah bikin mesin jahit. Daripada saya tidak ngapa-ngapain dirumah kalau tidak ada kuliah mending membantu orang tua mendapat pahala.” ujar Hisbi Naufal (8/7/2020).

Kalau perkuliahan daring pasti ada juga suka dukanya. Sukanya bisa kuliah dirumah bisa dekat dengan keluarga dirumah. Dukanya dalam kuliah daring tidak ada komunikasi tatap muka antar dosen dan mahasiswa. Dalam memahami materi sulit, karena dengan kuliah daring mahasiswa dituntut untuk mandiri dalam memahami materi pelajaran dengan baik. Ia juga mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan dosen terus-menerus, tugas yang diberikan dosen dirasa sangat membebani. 

Sinyal internet yang tidak stabil dan kuota data yang mahal juga menjadi keluhan kuliah daring. Tidak hanya kendala dalam kestabilan sinyal internet, kuota data juga harus tercukupi untuk melaksanakan perkuliahan daring. Padahal untuk membeli kuota data memerlukan biaya yang tidak murah dan untuk mengikuti kuliah daring membutuhkan kuota yang tidak sedikit. Saya rasa selama kuliah daring proses pembelajaran sangatlah kurang efektif, karena tidak ada tatap muka secara fisik, ungkapnya.

Meski Hisbi sering membantu orang tua di rumah, tetapi ia selalu aktif dalam perkuliahan yang dilaksanakan sesuai jadwal. Saat perkuliahan berlangsung ia usahakan untuk bersungguh-sungguh dalam mengikutinya dan mencatat yang ia anggap itu materi penting. Ia dapat membagi waktu untuk kuliah dan waktu untuk membantu orang tua.

“Ya saya usahakan kuliah itu pertama, saya selalu hadir dalam perkuliahan yang dilaksanakan secara terjadwal. Baru nanti jika sudah selesai kuliah saya lanjutkan untuk membantu orang tua dirumah.”ujar Hisbi Naufal, Rabu (8/7/2020)

“Alhamdullilah saya dapat mengambil hikmah dari perkuliahan daring ini meski banyak kendala yang saya rasakan. Dengan kuliah daring saya bisa berbakti kepada orang tua dengan cara membantu pekerjaan dirumah. Meskipun hanya ada beberapa yang saya bisa kerjakan tetapi saya harap itu dapat meringankan beban pekerjaan mereka.” ujar Hisbi Naufal, Rabu (8/7/2020)

OPINI - PENTINGNYA MITIGASI BENCANA ALAM PADA CUACA EKSTREM

  Sumber : bpbd.grobogan.go.id Cuaca ekstrem yang melanda akhir-akhir ini menjadi sebuah keresahan tersendiri bagi seluruh masyarakat di I...